Anak Berkebutuhan Khusus Tetap Punya Hak Pendidikan

357 views

OKU TIMUR – Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap anak untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Demikian, hal ini terpancar dari raut bahagia anak anak di Sekolah Luar Biasa Negri (SLBN) Martapura Kabupaten OKU Timur saat mengikuti tes wawancara.

Cacat fisik bukan menjadi alasan orangtua untuk tidak memberikan akses pendidikan layak seperti anak-anak pada umumnya.

Sri Wahyuni salah satu wali dari Dinda (7) yang tercatat sebagai salah satu siswa SLBN Martapura yang tak ingin menyia-nyiakan keterbatasan putrinya untuk tidak mengenyam pendidikan.

“Sebelumnya Dinda pernah belajar di salah satu TK setempat selama kurang lebih satu tahun. Tapi karena keterbatasan Dinda dalam pendengaran akhirnya salah satu guru menyarankan untuk ke SLB,” ucapnya pada Senin 15 Juli, ketika dibincangi di SLBN Martapura, Jalan Adiwiyata, Kotabaru Selatan, Martapura.

Saya berharap, kata Sri Wahyuni, anak-anak yang berada di SLBN mendapat pendidikan yang sama seperti anak-anak lainya, dan para guru secara sabar untuk memberi pelajaran dan pendampingan kepada murid- muridnya.

Terpisah, Sekolah Luar Biasa Negeri Martapura Drs Wakirin M. Pdi yang telah mengabdi selama kurang lebih 12 tahun menuturkan untuk ajaran baru 2019/2020 tercatat 9 anak yang sudah terdaftar di SLBN Martapura.

Setelah terdaftar lalu kemudian dilakukan wawancara kepada siswa yang didampingi orangtua untuk mengetahui jenis kebutuhan yang diperlukan.

“Misalnya anak itu tuna rungu ataukah ada keterbelakangan mental, tentu memiliki kebutuhan pendidikan yang akan disesuaikan,” katanya.

Lanjut Wakirin, kita memiliki kriteria pendaftaran usia siswa rata rata usia sekolah pada umunya sekitar 7 tahun adapun batas selisih sekitar 3 tahun dari usia yang ditentukan.

“Untuk ajaran baru ini selain siswa yang aktif ada juga ada siswa titipan yang dititipkan orang tuanya untuk belajar mandiri di SLB ini dan rata rata sudah menginjak usia remaja,” jelasnya lagi.

Siswa didik kami dilatih agar, kata Wakirin, bisa mandiri dalam mengurus dirinya sendiri. Kebanyakan siswa yang berkebutuhan khusus selalu dimanja oleh orang tuanya yang seharusnya bisa dilakukan sendiri ini dibantu orang tuanya. “Maka dari itu di SLBN ini kita didik bagaimana caranya agar bisa mandiri,” pungkasnya. (Triangga)