Kasus Penganiayaan Wartawan Belum Tuntas, PT Lintang Kembali Beraktivitas Warga Lebung Protes

BANYUASIN – Proses pengusutan kasus penganiayaan terhadap wartawan saat meliput penambangan pasir PT Lintang masih belum juga tuntas, warga Desa Lebung Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin kembali dikejutkan dengan adanya aktifitas penyedotan pasir yang diduga dilakukan oleh pihak perusahaan di dekat lokasi penganiayaan terhadap wartawan beberapa waktu lalu.

Aktifitas itu lantas hampir menyulut kemarahan warga Lebung

Hal ini di sampaikan Sapri salah satu tokoh pemuda desa Lebung kepada wartawan saat menyerahkan surat resmi penolakan warga Lebung atas beraktivitasnya kembali penambangan pasir PT Lintang di kantor Bupati Banyuasin, Kamis 19 Maret 2020.

“Kami warga desa Lebung sangat terusik dengan informasi adanya 3 ponton yang diperkirakan berkapasitas 200-300 kubik yang diduga milik perusahaan yang kembali beraktifitas di Desa Lebung, ini bukti bahwa pihak perusahaan tidak peka dengan kondisi emosional masyarakat Lebung yang sedang trauma atas terjadinya penganiayaan terhadap satu wartawan pada insiden pengeroyokan sepekan lalu oleh Petugas Keamanan  (PK) PT Lintang yang juga menyebabkan tujuh orang warga Lebung jadi korban.” keluhnya.

“Hari ini kami warga Lebung menyampaikan surat meminta Bupati Kabupaten Banyuasin untuk segera merekomendasikan cabut izin operasi penambangan pasir yang dilakukan oleh PT Lintang surat ini ditanda-tangani masyarakat langsung, yang selama ini tidak merasa menikmati kekayaan alam desa kami. Yang dikeruk setiap harinya hampir 24 jam non stop selama dua tahun dan tidak jelas manfaatnya bagi masyarakat desa,” tegas Sapri.


Dijelaskan sapri kehadiran penambangan pasir di Desa Lebung selama ini dinilai warga telah membawa mudorat bukan manfaat bagi masyarakat, terbukti adanya perlakuan yang sangat arogan dari pihak keamanan perusahaan tesebut sampai meneteskan darah wartawan yang sedang melakukan peliputan.

“Kami harap tidak ada lagi aktifitas penambangan pasir di Desa kami guna menghidari korban – korban selanjutnya,” pinta Sapri.

Selain ke Bupati Banyuasin ditambahkan sapri surat tersebut juga di tembuskan ke ketua DPRD Banyuasin, Kapolres Banyuasin dan Camat Rantau Bayur.

“Terakhir kami tidak tahu mau bilang apalagi kepada siapa lagi kami mengadu selain ke bupati dan wakil bupati, perusahaan jangan dibingkai dengan izin bisa seenaknya mengeruk harta kekayaan desa kami tanpa jelas kontribusi ke masyarakat, tentu itu tidak dibenarkan, semoga masyarakat tetap bijak jangan terpancing emosi dan terprovokasi, kita yakin dengan kepiawaian bupati H. Askolani dan wakil bupati H.Slamet Somosentono dapat merasakan jeritan hati kami sehingga dapat mengupayakan izin eksplorasi PT Lintang di cabut.”tutupnya.

Terpisah biro hukum IWO Sumsel, Anwar Sadat SH yang dipercaya untuk memberikan pendampingam hukum terhadap Denny Irawan, wartawan dan anggota IWO Sumsel yang menjadi korban penganiayaan yang dilakukan PK PT lintang mengatakan pihaknya sangat menyayangkan adanya aktivitas penambangan pasir yang kembali dilakukan oleh pihak perusahaan. Mengingat kasus penganiayaan wartawan yang dilakukan PK perusahaan tersebut hingga saat ini pun dinilai belum tuntas.

“Sejak kejadian hingga sekarang baru satu pelaku yang berhasil di tangkap dan banyak pelaku yang masih berkeliaran belum tertangkap juga dalangnya pun belum bisa di ungkap, sebaiknya atas nama keamanan pihak Kepolisian dalam hal ini Polres Banyuasin dapat bertindak tegas untuk dapat menghentikan sementara penambangan PT.Lintang di desa Lebung hingga kasus ini benar-benar terungkap dan situasi dapat kembali kondusif,” pungkasnya.(rilis IWO Sumsel)