Lima Kilometer Sungai Banban Alami Pendangkalan Perlu Pengerukan

371 views


OKU TIMUR – Sepanjang lima kilometer dari panjang tujuh kilometer sungai Banban yang melintas di Desa Banban Rejo, Kecamatan Madang Suku II.
Saat ini dasar sungai mengalami pendangkalan yang mengakibatkan air sungai meluap ke lahan persawahan, sehingga mengakibatkan hasil panen petani menurun drastis dan sangat memerlukan pengerukan.
“Keseluruhan yang melewati desa banban sepanjang 7 km, pendangkalan disebabkan oleh Lumpur yang terbawa dari bagian hulu sungai yang kebanyakan kebun sawit. 
Letak sungai Banban yang mengalami pendangkalan berada di dusun 1 dan dusun 4 Desa Banban Rejo, Panjang sekitar 5 km yang perlu pengerukan,” kata Sungatmin selaku Kepala Desa Banban Rejo, Kecamatan Madang Suku II, kepada wartawan swarasumsel.
Menurut Sungatmin, bahwa pengerukan sangat diharapkan oleh para petani yang memiliki lahan persawahan berada di sekitar sungai, sebab dari data desa sekitar 200 hektar sawah sering kebanjiran saat turun hujan akibat air sungai meluap dan masuk ke sawah petani.

“Sawah yang sering terendam air dari luapan sungai terletak di Dusun satu, Dusun dua, & Dusun empat. Saat masa tanam bulan Nopember sampai bulan Maret, biasanya banjir datang di bulan Januari dan Februari, padi yang
sudah ditanam di sawah tergenang air sampai 3 hari padi yang di tanam mati, mengakibatkan petani gagal panen,”

Diungkapkannya, bahwa pengerukan sungai sudah diusulkan oleh Pemerintah Desa Bamban Rejo dari tahun 2017 dan sampai sekarang blm ada tanggapan. “Saat kemarau seperti inilah sangat pas Pengerukan di realisasikan.

Harapannya dengan dasar sungai sudah normal petani bisa menggarap sawahnya dengan rasa suka dan tenang serta senang tidak perlu takut kalau musim hujan tidak akan kebanjiran,” pungkas Sungatmin.

Terpisah Rabiman (59) salah satu petani yang mengaku memiliki lahan sawah selebar satu hektar, bahwa dari ceritanya akibat dari luapan air Sungai Banban yang datang saat musim hujan mengakibatkan panen padi milik kurang maksimal.
“Sawah milik saya ini untuk musim tanam bulan November hingga Maret mengakibatkan banjir, sehingga hasilnya hanya sekitar tiga sampai empat ton gabah perhektarnya padahal dalam kondisi normal bisa mencapai tujuh ton perhektarnya,” ujar Rabiman. (pen)