Mendaur Ulang Kertas Bekas Jadi Karya Seni

683 views

 

 

OKU TIMUR – Di tangan Jaimun (62) warga Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), tumpukan kertas bekas disulap jadi karya. Lewat beragam medium, kertas bekas diolah jadi seni Kriya.

 

Di teras rumahnya di Kampung 1 Desa Banu Mas, Kecamatan Buay Pemuka Peliung yang digunakan sebagai workshop di siang hari, Jaimun menunjukkan sebagian kecil kreasinya. Dari mulai patung, asbak, lukisan hingga ornamen kandang burung—semuanya pesanan. Ada yang bernada tradisional, sebagian kontemporer.

 

Dalam lukisannya yang laku ia jual dua bulan lalu misalnya, ia mengangkat dongeng Jaka Tarub. Ia melukis sesosok bidadari kayangan yang hendak turun mandi di telaga.

 

“Nawang Wulan, katanya yang sengaja mengajak kami ke rumah tetangganya—pembeli lukisan yang ia bicarakan. “itu salah satu dari tujuh bidadari yang berhasil dipersunting Jaka Tarub.” kata pria yang dasarnya memiliki keahlian menggambar otodidak ini.

 

Yang berbeda pada seni kriya yang Jaimun lakoni, dalam lukisan dua dimensi itu ia menambahkan elemen lain untuk mencapai detil realitas dalam karyanya. Terbang memegang selendang, sosok bidadari itu ia bekukan dalam kanvas dengan detil-detil timbul dari kaki hingga kepala, mirip hiasan dinding aluminium. “Biar yang liat puas, bidadarinya macem betulan,” katanya terkekeh.

 

 

Kertas bekas dilebur, kemudian dicampur dengan lem, dipadatkan, lantas ditempatkan pada medium yang ia kehendaki. Dijemur sampai kering, tahap terakhir memoles hingga tercipta bentuk yang diingini. Tiap tahapan tidak sesederhana yang terlihat. Satu karya minimal memakan waktu sampai 10 hari.

 

Ia juga sesekali menggunakan kuas, triplek, cat atau gerinda dalam mencipta. “Saya bisa melukis apa saja, tema apa saja, karikatur juga bisa,” katanya promosi, ia juga cerita memilih kertas sebagai bahan baku karena gampang didapat.

 

Sementara itu, dua proyek lainnya yang sedang ia kerjakan adalah pesanan hiasan dinding patung Garuda dan sebuah lukisan wayang. Ia mengaku karyanya termahal pernah laku Rp 1 Juta, asbak pernah ia jual sekitar Rp.75 ribu. Nilai jualnya tergantung durasi pembuatan dan ukuran pesanan.

 

Ke depan ia menginginkan tambahan peralatan, ia ingin menambahkan material bubuk batu apung ke dalam kreasinya. Batu sungai ini kata Jaimun dapat membuat karyanya jadi lebih kokoh dan mengkilap. “Alat penghancurnya (batu apung) itu yang masih jadi kesulitan kita,” tandasnya. (triangga)