OKU TIMUR Targetkan Jadi Lumbung Cabai

Tidak ada komentar 171 views

OKU TIMUR – Pemerintah Kabupaten OKU Timur menargetkan kabupaten OKU Timur akan menjadi daerah penghasil cabai meskipun Kabupaten OKU Timur dikenal sebagai daerah penghasil padi terbesar kedua di Provinsi Sumsel.

Hal ini dibuktikan di saat musim kemarau petani cabai di wilayah OKU Timur berhasil memanfaatkan lahan persawahan dikelola menjadi lahan produktif sehingga dapat membantu ekonomi masyarakat, Selasa (24/9/2019).

Saat melakukan panen cabai tersebut Bupati OKU Timur HM Kholid MD bersama masyarakat, kepala OPD dan Forkompinda di Dusun Lipay, Desa Perjaya Barat, Kecamatan Martapura mengatakan, pihaknya sangat mendukung terhadap adanya inisiatif masyarakat dalam mengelola lahan persawahan untuk menanam palawija dan cabai.

Bahkan Pemkab OKU Timur melalui dinas terkait akan memberikan fasilitas dan dukungan terhadap petani-petani agar dapat mengembangkan tanaman cabai, yang tujuannya bisa menambah penghasilan masyarakat.

“Lahan pertanian yang dilakukan panen bersama ini akan kita jadikan sebagai percontohan. Di mana agar masyarakat lain dapat meniru pemanfaatan lahan tidur agar menjadi sebuah penghasilan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Selain itu, untuk tata cara perawatan, pola tanam dan pemilihan bibit yang baik, nanti kita akan minta kepada penyuluh pertanian dan petani yang telah berhasil untuk memberikan ilmunya kepada petani lainnya, sehingga petani lain juga bisa berhasil,” jelasnya.

Sedangkan untuk masalah permodalan, sambungnya, Bupati juga menyarankan agar para petani di Kabupaten OKU Timur dapat segera membentuk koperasi petani cabai.

Di mana dengan adanya koperasi petani cabai, kebutuhan modal para petani bisa didapat dengan bekerjasama pihak Bank Sumsel Babel Cabang OKU Timur.

Sedangkan untuk kebutuhan bibit, pupuk dan pestisida bisa melalui koperasi yang dibentuk dan dikelola oleh gabungan petani.

“Dengan adanya lahan percontohan ini, ke depan kebutuhan cabai di Kabupaten OKU Timur diharapkan tidak lagi bergantung dengan daerah lain. Di mana selama ini kebutuhan cabai di daerah kita banyak di suplai dari kabupaten tetangga. Jadi nanti tidak ada lagi istilah cabai ranau, atau cabai muara dua namun sudah ada cabai OKU Timur,” jelasnya.

Sementara itu, H Mujid petani cabai Dusun Lipay Desa Perjaya Barat mengaku, selama menanam cabai sekitar 5 bulan lalu, dirinya sudah mampu melakukan panen sebanyak 9 kali.

Di mana setiap panen dirinya mampu menghasilkan hingga 300 kilogram cabai merah keriting.

“Selama tanam saya sudah 9 kali melakukan panen. Terakhir panen dapat 300 kilogram dan hari panen lagi. Saat panen pertama cabai masih tinggi dengan harga jual Rp 55 ribu per kilogram. Sekarang harga cabai mulai turun dengan harga jual Rp 30 ribu perkilogram.(Rizal Arisandi)