Pusat Pergudangan Beras, Solusi Untuk Kesejahteraan Petani

OKU TIMUR – Pusat Pergudangan Beras (Rice Processing Center) menjadi salah satu resep untuk memakmurkan kesejahteraan petani di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU TIMUR). Sebab cara ini memastikan jika petani bisa memiliki posisi tawar tinggi dalam menentukan waktu dan harga jual beras mereka.

“Kita lihat sekarang, giliran paceklik harga beras mahal tapi barang tidak ada. Giliran musim panen harga beras jatuh. Petani jadi tidak bisa menikmati hasil jerih payah mereka. Apalagi sistem ‘Yar-Nen’ (Bayar Panen) yang kerap membuat perekonomian petani tak kunjung membaik.” Kata Faisal Habibur SH selaku Ketua Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) OKU TIMUR via telepon genggam.

Makanya kata dia, ia bercita-cita untuk menerapkan program resi gudang yang bertujuan meningkatkan taraf ekonomi petani. Ini juga, kata Faisal Habibur, sebagai respon pengelolaan di hilir atas status Lumbung Pangan Nasional kabupaten OKU TIMUR.

“Oke kita sebagai lumbung pangan nasional, tapi dimana letak lumbungnya? Dimana letak pusat berasnya, pasar induk berasnya? Itulah makanya harus ada pergudangan beras yang masif, yang bertindak menangani di hilir pemasaran dan penjualan skala kabupaten bahkan tingkat provinsi sekalian.” Kata dia lagi.

Selain itu mengenai kesejahteraan petani, kata dia, nantinya di sistem resi gudang, petani menggunakan fasilitas gudang untuk menyimpan pasokan beras mereka dengan layak. Mau kapan dijual itu hak sepenuhnya pada petani.

Bermodal penitipan beras itu nanti petani dapat meminjam uang pada manajamen pengelola gudang. “Nilainya kisaran antara 70 persen dari total nilai beras yang dititipkan.” Lanjut Faisal Habibur.

“Untuk pembayarannya nanti dilunasi setelah beras yang dia simpan laku. Pembelinya nanti dicarikan oleh manajemen gudang dari luar-luar, saya banyak kenal perusahaan beras dari pulau Jawa atau se-Sumsel. Nanti kita bikin sistem pasar lelang beras.” kata Faisal optimis.

Dengan cara seperti ini, katanya lagi, dipastikan petani dapat menjaga kualitas beras dan dapat memastikan harga jual berasnya di taraf yang memuaskan. “Kalau dilihat beras masih murah, ya ditahan dulu sampai harga jual sudah bagus.” kata dia lagi seraya menambahkan program itu sangat baik jika didukung pemerintah lewat pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Ditanya bagaimana modal pembuatan Rice Processing Center tersebut, Faisal menambahkan ada banyak cara untuk mewujudkan ide itu. Misalnya dengan kerjasama perbankan, pinjaman dari luar negeri ataupun mengundang investor.

“Nanti saya yang carikan investornya. Sekarang tinggal kemauan kita semua, menegakkan harkat sebagai Lumbung Pangan Nasional akan dilakukan secara serius atau tidak? Kalau saya sudah mulai secara pribadi plan projectnya sekitar kapasitas 7 ribu ton. Kemarin baru di survei dari PT Bandha Graha Reksa.” Tandas dia.(triangga)