Stiper Belitang Gelar Seminar Penguatan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pertanian


OKU TIMUR  – Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Belitang sukses menggelar seminar penguatan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian. Kegiatan seminar yang dihadiri ratusan peserta dipusatkan di Aula Kampus Hijau Stiper Belitang, Sabtu 17 November.


Seminar yang membahas tantangan dan peluang dunia usaha pertanian era pasar bebas di Kabupaten OKU Timur ini, dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Arwita Belitang H Sugeng Supriyanto SP MM.


Selain ratusan peserta yang terdiri dari para Mahasiswa, Petani, Kelompok Tani, Penyuluh dan organisasi pertanian. Bertindak sebagai pembicara  Dinas Pertanian diwakili oleh Andre Irawan SP M.Si menyampaikan materi Kebijakan pembangunan pertanian di Kabupaten OKU Timur, dan Yudi Haryadi, STP  menyampaikan


Materi Pengembangan Padi Organik OKU Timur, serta Ketua Komisi III membidangi penganggaran berasal dari Fraksi PPP yakni Agus Sutikno SE MM MBA dengan materi Startegi pembangunan ekonomi kerakyatan.


 Ketua Pelaksana Joko Kirmanto, dalam dalam laporannya mengatakan, berterimakasih kepada semua pihak yang telah partisipasi mensukseskan kegiatan dan berharap dengan adanya kegiatan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat umum dan khusus mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Belitang.
“Seminar ini salah satu bentuk tridarma perguruan tinggi yang setiap tahun rutin di laksanakan di Stiper Belitang , sebanyak empat kali dalm setahun. Semoga kedepannya pertanian di OKU Timur lebih baik lagi”, ucapnya.
Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Arwita Belitang, H Sugeng Supriyanto SP MM, saat membuka Seminar regional menjelaskan, bahwa diambilnya tema seminar penguatan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian menyoroti  dunia pertanian dikembangkan era teknologi saat ini membawa Indonesia masih tergantung dari luar dan belum bisa swasembada pangan.
“Era teknologi saat ini, malah kekurangan pangan. Era MEA menjadi tantangan bagi kita dapat mewujudkan petani lebih bermartabat kedepannya, lebih makmur”, jelasnya dihadapan para peserta yang hadir.



Sementara Agus Sutikno dalam paparannya, menyampaikan, bahwa dirinya meminjam istilah untuk menggambarkan kondisi petani saat ini, petani disayang tapi belum dibelani. Seperti alokasi anggaran pertanian yang masih sangat minim padahal seharusnya bisa menjadi prioritas pemerintah seperti halnya dunia pendidikan dan kesehatan.


“Alokasi anggaran pertanian harus paraler mulai dari pusat, Pemerintah harus mendukung kebijakan perpajakan, kebijakan pertanahan, kebijakan pengupahan. Kalau tidak mau lima sampai sepuluh tahun lagi profesi petani akan ditinggalkan, karena kurang menarik,” jelasnya.(pen)